Lima mobil melewati gue dengan kecang. Gue tidak tahu apa mereka sedang
balapan atau mengejar waktu untuk sampai di tujuan. Tapi yang gue lihat, mereka
berbelok kearah yang sama dipertigaan 500 meter didepan gue. Gue pun kembali
tertidur dalam lamunan. Kalau saja gue tidak berbuat seperti itu, mungkin tidak
akan seperti ini. Gue pun tidak pernah mengingat lagi apa itu apa ini. Yang gue
ingat hanya kejadian menimpa keluarga gue saat...
“Mas tahu alamat ini
tidak?” seseorang membangunkan gue dari lamunan yang tiada akhir ini. “Oh,
jalan merpati kearah sana, nanti ada pertigaan ke kiri” jawab gue dengan
penjelasan terperinci dengan tangan menunjukan arah. Orang itu pun langsung
meninggalkan gue. Akhirnya gue memutuskan untuk meninggalkan bangku taman yang
sudah lima hari gue duduki. Lurus menuju pertigaan, berbelok kekanan, sekitar
200 meter berbelok ke kiri, lalu kenan lagi. Menjelang sore gue bertemu kembali
dengan lima mobil tadi pagi.
Mereka berhenti di
suatu rumah yang besar yang sepertinya sedang mengadakan pesta, jandela rumah
terbuka. Gue melihat banyak makanan dan bir yang tersedia diatas meja. Tidak
lupa lampu disko yang membuat mereka berdansa. Kebanyak yang hadir keacara itu
anak-anak muda seumuran gue. Sepertinya mereka adalah orang-orang kaya, banyak
mobil mewah yang parkir disana. Gue melihat ada bangku kecil di depan rumah
besar itu. Gue pun duduk disana sambil mengamati suasana pesta itu.
Tak lama kemudian gue
melihat seorang perempuan cantik keluar kejalanan tepat didepan gue duduk
sekarang. Dia pun menghampiri gue dengan senyuman manisnya dan mengajak gue
ikut kedalam pesta itu. Gue pun mengikutinya masuk kedalam. Di luar dugaan
mereka sangatlah ramah-ramah, mau menerima gue yang aneh ini... Brem...Brem...
suara mobil mengagetkan gue dalam tidur dengan mimpi indah itu. Gue melihat
kebawah dan gue masih berada di kursi kecil itu.
Mobil itu melaju
kencang di pagi yang dingin ini. Gue melihat rumah itu sudah menyelesaikan
pestanya. Gue bergegas pergi sebelum jalan itu ramai oleh orang lewat. Gue
menyusuri jalan besar menuju arah utara lalu menuju ke barat dengan nama Jalan
Mawar. Gue pun melihat sekeliling untuk mencari tempat sampah. Siapa tahu ada
sebutir nasi yang di buang orang. Perut gue belum pernah diisi oleh makanan
semenjak lima hari yang lalu. Beruntungnya gue melihat seorang membuang
bungkusan ke arah tong sampah didepan rumahnya.
Gue pun segera
menghampiri tong sampah itu. Sial! tong sampah itu berair dan bungkusan seperti
nya didalam makanan itu terendam. Tapi, apa boleh buat? Gue terpaksa
mengambilnya dan duduk di emperan rumah itu untuk mengeringkannya. Belum sempat
gue membuka bungkusan itu, gue mendengar kegaduhan di dalam rumah.
Prang... Buuk... Duar... seperti ada
perang yang melanda. Gue penasaran apa yang terjadi didalam. Gue pun mengintip
di sela-sela pagar tinggi dengan kawat berduri di atasnya yang mungkin dialiri
listrik.
Gue melihat sepasang
suami istri sedang bertengkar didalam, banyak barang-barang pecah didalamnya.
Tapi yang membuat gue prihatin, seorang anak duduk termenung di pinggir ruangan
itu. Dia menangis melihat ayah-ibunya sedang bertengkar. Gue teringat akan
kejadian yang gue alami. Hampir sama dengan yang gue lihat sekarang. Gue hanya
bisa berdoa, semoga anak itu tidak menjadi seperti gue sekarang ini.
Gue membuka bungkusan.
Dan... Didalamnya terdapat nasi yang boleh dibilang masih segar. Gue
menyisihkan air yang masih tersisa didalamnya. Ini makanan terlezat yang pernah
gue makan. Rasa seret di tenggorokan merajai sehabis gue makan nasi itu. Gue
harus mencari air. Terlalu lama untuk menunggu hujan. Dengan terpaksa gue
meminum air genangan yang terdapat di pinggir jalan yang rasanya tidak enak
sama sekali.
Melanjutkan perjalanan
menuju arah utara, melewati gang-gang kecil, melewati perumahan besar dan
lagi-lagi sampai di jalan besar. Gue menyebrangi jembatan layang itu, terlihat
matahari sudah merosot ke arah barat dan sebentar lagi tenggelam. Aaaa... Jangan Gue kaget mendengar teriakan segerombolan
orang di tengah jembatan. Gue pun bergegas menghampiri. Gue berusaha melihat
apa yang terjadi disitu.
Seorang perempuan
berdiri di pinggir jembatan. Kami yang bergerombol ini hanya bisa
menyaksikannya. “Jangan nak, ibu janji tidak akan melarang mu” seorang wanita
tua berteriak hingga meneteskan air mata. “Tidak, Ibu bohong” kata perempuan
yang sekarang sudah berpindah ke luar jembatan. Niatnya untuk bunuh diri
semakin kuat. Foooong suara kereta
datang di bawah jembatan. Lalu .. “Maaaf Bu” dia melepas kedua tangannya dan
terjatuh tepat tertabrak kereta.
Ibunya menangis hingga
pingsan, warga disiti pun membantunya dengan dibawa kerumah sakit. Gue hanya
bisa bengong dan bingung dengan kelakuan
perempuan itu. Apa masalah perempuan itu? Apa yang dilakukan ibunya? Mungkin hanya tuhan yang tahu. Gue pun
melanjutkan jalan menuju arah yang tidak ditentukan yang mungkin suatu hari membawa gue seperti perempuan itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar