Krontang.. Jeger... Byur... Suara barang terjatuh ke sungai terdengar keras
sekali. “Suara apa tuh?” tanya si Eko
panik dengan mata terarah keluar jendela. Gue pun melakukan hal yang sama
dengannya. Karena keinginan untuk mengetahui sangat kuat, Gue dan Eko langsung
berlari keluar rumah. Gue melihat Adi dan Dono sudah berada diluar, menghadap
kearah barat atau boleh di bilang sebelah kanan rumah. Tidak hanya mereka
berdua, beberapa oarang didepan mereka juga melihat kearah yang sama. Apa yang
terjadi? Apa ada yang terjatuh di sungai sebelah rumah gue ini? Tapi suarannya
kencang sekali.
Ketika sampai di ujung pintu, Gue tidak melihat ke arah dimana Adi dan Dono
melihat. Gue melihat ke arah sebaliknya. Banyak orang berbondong-bondong kearah
belakang gue, mereka berlari dengan dengan muka penasaran. Tidak hanya
anak-anak saja tetapi juga orang tua dan Ibu-ibu. Tanpa berfikir panjang gue
melihat ke arah kerumunan orang di depan rumah gue. Matahari sore membuat silau
di mata. Tangan kanan gue terpaksa membuat topi diatas mata untuk memperjelas
penglihatan. “Apa? Tidak mungkin? Kemana Jembatan?” Gue berteriak.
Gue pun merasa tidak percaya dengan apa yang gue lihat ini. Seharusnya
sepuluh meter dari rumah gue ini kearah barat ada sebuah jembatan yang
menghubungkan Desa Boru dengan Desa Delima. Tapi kemana jembatannya?
Jangan-jangan.... Baru ingin mengatakan hal yang ngak-ngak Eko, menjawab
pertannyan gue tadi, “Jatuh kesungai”. Semua pecahan-pecahan jembatan berserakan
terbawa arus sungai. “Kenapa bisa runtuh? Sungai aja tidak deras alirannya?”
tanya Dono dengan polos. “Iya yah aneh” Jawab Adi. Kami ber empat pun langsung
mengobrol masalah jembatan itu. Masyarakat sekitar di sekitar ikut ricuh.
Gue menengok ke seberang jembatan. Mereka yang berada di Desa Delima
melakukan hal yang sama. Dua jam berselang setelah jembatan itu runtuh. Ada
kesepakatan kalau jembatan runtuh itu tidak menelan korban. Semuannya pun ikut
bersyukur. Sangat beruntung sekali, Kami berempat masih berada dipinggir
sungai. Hari sudah malam. “Udah yuk kerumah” manja gue. Jujur aja gue pegel
banget berdiri disitu dan tidak terjadi apa-apa. “Yasudah, gue udah ngantuk”
jawab Adi. Padahal ini baru jam tujuh malam, kami kelelahan bermain PS 2
semenjak pagi. Kami tidur tanpa makan ataupun sikat gigi terlebih dahulu.
“Sial” gue berteriak bangun karena mimpi buruk saat tidur. Gue tidak bisa
mengingat mimpi itu lagi saat bangun. Terlalu mengerikan. Karena tidak bisa
tidur lagi, Gue pun meninggalkan kamar dan menuju keteras rumah. Untungnya
suara teriak gue tadi tidak membangunkan yang lain untuk bangun. Kalau mereka
bangun bisa-bisa mereka marah sama gue. Gue keluar dengan membawa segelas teh
manis, dari jembatan ini terlihat mulut jembatan disegel oleh sebuah bambu.
Sangat sunyi dan tenang, itu yang gue rasakan sekarang.
“Ambil makanan ah...” gumam gue.
Ada sepiring kue di belakang, tak lama gue keluar ke teras lagi. Begitu gue
duduk dan menghadap ke bibir jembatan, semua badan gue terasa kaku dengan apa yang
gue lihat sekarang ini. Seorang perempuan memakai baju putih, sedang melihat
kearah jembatan runtuh itu. Siapa dia? Kenapa ada disini? Dan sejak kapan?
Ternyata gue berpikir terlalu lama. Si perempuan itu menengok kearah gue
sekarang. Namun kali ini rasa takut gua hilang seketika, ketika wajah cantik
perempuan itu tersenyum kearah gue. Dia tidak seperti perempuan yang ada di
mimpi buruk gue, tidak menyeramkan. Dia juga napak kok, tidak melayang.
Dengan keberanian yang tinggi
gue mendekatinya. “Lagi apa disini?” tanya gue dan dberdiri disampingnya. Gue
masing menjaga jarak dengannya, kalau-kalau dia berubah menjadi sesuatu yang
mengerikan. “Jalan-jalan aja, kamu sendiri?” jawabnya dengan lemah lembut.
Suaranya membuat gue semakain ingin dekat denganya tapi masih berjaga jarak. “Rumah
gue disitu, tapi gak bisa tidur aja, mimpi buruk hehe” jawab gue bercanda.
Perempuan itu tertawa kecil dan kami pun mengobrol panjang. Namanya Jane. Dia
berasal dari Desa Delima juga, tapi gue tidak pernah melihatnya.
Dia mengajak gue ke jalan
setapak menuju ke tepi sungai yang landai. Gue sudah agak jauh dari rumah
sekarang, Jane memegang tangan gue saat kami melihat aliran sungai menerjang
bebatuan kali di malam hari. Kami saling bertatapan dan Ia mencium gue. Rasa
nikmat berciuman dengannya sangat nikmat, lalu gue tidak sadarkan diri.
Tiba-tiba seseorang memanggil gue, “Dy, Rendy bangun, kenapa lu ada disini?”
terdengar suara Dono samar-samar. Gue pun buru-buru menyadarkan diri, dan hari
sudah pagi. Kemana Jane? Itu yang ada di otak gue pertama kali.
“Kalian ngapain disini?” tanya gue, sekarang gue sudah mulai berdiri. “Tiba-tiba,
Pak Tono ke hilangan anaknya, ada orang yang melihatnya jatuh kemarin, dia
perempuan” jelas Adi. “Kenapa baru sekarang?” tanya gue heran. “Kemarin itu
orang tidak yakin, kami sedang membantu mencarinya” tambah Adi. Dengan masih
perasaan heran gue pun bertanya “Siapa nama perempuan itu?”. Eko pun menjawab
“Namanya Jane”. What....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar